Saturday, April 26, 2008

curhat nieeee

hari pertama ketemu
pada hari ni q seneng buangetzzz....
tw ga knpa?????

soalllllnyaaaaaaaaaaa........hri ni tu hri pertama aq ktemu ma ce q stelah jadian slama 1 bulN...
MESKIPUN CMA smpe sblm maghrib getoooo
tpi semwa ini q rsa sangat indahh
bru kali ini aq rasain yang bgitu.........
setelah 1 blan menunggu,,dengan perjuangan yang
bkin hti q mrasa was2....tapi secara kselurhan q seneng buangetzzzzz
hari kedua ketemu
hari ni adalah hari kedua aq ktmu ma ce q....
sekaligus hari ini adalah hari perpsahan q dengan dya lagi
mngkin skrang q seneng bgt tapi aq jg g bsa.....nyembunyiin klo aq tu tkut bgt khlangan dia....mw sedih malu....
mw seneng takut dblang dah g suka lgiiiii.....
jadi bingung nichhhhhh....
tapi ya udahlah itu emang dah jd kwjbn dya....
aq cma bsa pasrah nerima smua niiii...
ihik..ihik...ihik..(nangis bkan ktawa ya!!!!)
karna q berharap q bsa ktemu ma dya...
ya udahlahhhh
mngkn ckup ni ja yg q tulis hri ni..
bt syang q aq syang bgt ma kmu...
aq harap sayng ga nghiatin cnta qta....

selanjutnya...

Friday, March 14, 2008

cara membuat read more

YOGYAKARTA (SINDO) – Wisata pendidikan, seperti yang dimiliki DIY, memerlukan perhatian pemerintah. Ini karena sektor pariwisata berbasis pendidikan bisa ikut mendorong pertumbuhan kepariwisataan daerah.

”Sudah saatnya para pemangku dan pengambil kebijakan kepariwisataan di DIY, termasuk pemerintah provinsi memperhatikan potensi wisata pendidikan, di antaranya dengan mengupayakan peningkatan kunjungan wisata pelajar ke Yogyakarta,”kata Kepala Badan Pariwisata Daerah (Baparda) DIY Tazbir,kemarin.

Menurut dia, pemerintah daerah jangan hanya terfokus pada wisatawan mancanegara (wisman), tetapi juga memperhatikan wisatawan pelajar sebagai bagian dari wisatawan nusantara (wisnus). ”Apalagi DIY memiliki potensi wisata pendidikan, karena objek wisata tersebut jumlahnya cukup banyak di daerah ini, di antaranya museum dan taman pintar di kota Yogyakarta,”katanya.

Kata Tazbir, jumlah wisatawan pelajar dari berbagai daerah yang datang ke DIY setiap tahun jumlahnya selalu meningkat. Bahkan, pada setiap musim liburan, sekolah hotel atau tempat penginapan di Yogyakarta selalu penuh. Dia mengatakan, DIY memiliki ciri khas dalam dunia pendidikan, atau masih dipandang sebagai kota pendidikan, sehingga masih menjadi tujuan utama wisatawan pelajar dari berbagai daerah.

”Karena itu, perlu keanekaragaman objek wisata pendidikan agar wisatawan pelajar tidak bosan mengunjungi DIY,” katanya. Ketua Yayasan Widya Budaya Yogyakarta Widi Utaminingsih mengatakan, pariwisata berbasis sekolah secara nasional layak dikembangkan, sehingga arus kunjungan wisata pelajar antardaerah bisa menjadi salah satu potensi kepariwisataan di Tanah Air.

Menurut dia,wisatawan pelajar juga bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi keterpurukan kepariwisataan di daerah termasuk DIY. ”Jika kunjungan wisatawan pelajar antardaerah menjadi suatu keharusan atau diwajibkan di setiap sekolah, itu bisa membantu pengembangan wisata sekolah secara nasional, termasuk DIY,” kata pengelola yayasan yang memiliki perhatian terhadap pariwisata berbasis sekolah ini.

selanjutnya...

Thursday, January 31, 2008

SEJARAH SOEHARTO

Monumen Mandala, Bukti Sejarah Soeharto di Makassar


MESKIPUN lahir di Kemusuk, Argomulyo, namun mantan Presiden Soeharto tak bisa dipisahkan dari Makassar. Tahun 1960-an silam, ia telah menorehkan sejarah di kota ini tatkala menjadi Deputi Wilayah Indonesia Timur dan Panglima Komando Mandala
SIKAP Pemerintah Belanda yang tidak bersedia menyelesaikan konflik Irian Barat melalui forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membuat pemerintah Republik Indonesia gerah.

Saat itu, tahun 1961, pemerintah RI menegaskan tidak bersedia lagi melakukan perundingan. Makanya, ketika itu, pemerintah RI menitikberatkan perjuangan pembebasan Irian Barat dalam bidang militer.

Sebagai tindak lanjut dari sikap pemerintah RI, pada tanggal 19 Desember 1961 di Alun-alun Yogyakarta, Presiden Soekarno mengkomandokan Tri Komando Rakyat yang belakangan lebih lazim disebut Trikora.

Isinya; Gagalkan pembentukan negara boneka buatan Belanda, Kibarkan sang saka merah putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia, serta Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.

Sebagai tindak lanjut Trikora, di seluruh Indonesia dilakukan mobilisasi umum dalam rangka pembebasan Irian Barat. Kekuatan cadangan nasional pun demikian.

Namun sebelum itu, kampanye melalui rapat raksasa juga dilakukan. Bahkan pada 4-8 Januari 1962, bertempat di lapangan Karebosi, diadakan rapat raksasa dalam rangka pembebasan Irian Barat.

Rapat itu dihadiri langsung Presiden Soekarno, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal AH Nasution, serta Panglima Daerah Militer XIV/Hasanuddin. Saat itu, Soekarno menyerukan ”Rebut Irian Barat Sebelum Ayam Berkokok”.

Setelah Trikora dikomandokan, pada tanggal 2 Januari 1962, Soekarno membentuk Komando Mandala untuk membebaskan Irian Barat bersifat gabungan. Itu disusul dengan pelantikan Mayjen Soeharto sebagai Deputi Wilayah Indonesia Timur dan Panglima Komando Mandala.

Saat itulah, Soeharto resmi bertugas di Makassar dan akhirnya setelah melalui serangkaian peperangan, Irian Barat kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Untuk mengenang sejarah pembebasan Irian Barat, maka pada tahun 1994, Monumen Mandala pun dibangun. Peletakan batu pertama oleh Menkopolkam Soesilo Sudarman pada tanggal 11 Januari 1994.

Setahun kemudian, tepatnya 19 Desember 1995, monumen ini pun diresmikan oleh Presiden Soeharto yang tak lain Panglima Komando Mandala.

”Sebelum dibangun di Makassar, Monumen Mandala juga sudah berdiri di Manado. Makanya saat itu, setelah melalui pembicaraan alot dan dengan pertimbangan bahwa Makassar merupakan pusat markas pembebasan Irian Barat, akhirnya Monumen Mandala pun dibangun.

Tempat yang dipakai untuk monumen pun bekas markas. Jadi ini dibangun sebagai monumen peringatan,” kata sejarawan Sulsel, Dr Edward L Polinggomang, di rumahnya petang kemarin.

Menurut Edward, monumen tersebut dibangun oleh Kodam VII Wirabuana. Meski begitu menurutnya, kemungkinan besar, Soeharto juga punya andil, termasuk memberikan idenya. Tapi menurutnya itu wajar saja, sebab Makassar memang sempat menjadi pusat militer.

”Saya juga ikut bicara di awal pembangunan monumen tersebut. Saat itu saya baru pulang dari Belanda. Dulunya, di situ (Monumen Mandala, red) merupakan markas kepolisian yang dipindahkan ke Sudiang,” katanya.

Terkait Soeharto sendiri, dosen Unhas ini menegaskan kariernya di militer juga terdongkrak tak lepas dari keberhasilannya menjadi komandan pembebasan Irian Barat.

”Ia menjadi populer setelah kembali ke Jakarta. Di Makassar sendiri ia tinggal dari tahun 1962 hingga Irian Barat diserahkan Pemerintah Belanda ke Indonesia.

Makanya tak bisa dipungkiri jika pembebasan Papua merupakan andil besar Soeharto,” kata Edward seraya melanjutkan bahwa di Makassar, Soeharto dekat dengan keluarga BJ Habibie yang belakangan menggantikan dirinya sebagai Presiden di era Reformasi.

Karena begitu bermaknanya monumen ini, Edward pun menyinggung sedikit soal demonstaasi yang kerap dilakukan warga dan mahasiswa Papua di Makassar.

Menurutnya, jarang sekali mahasiswa Papua berdemo di luar dari Monumen Mandala.
Monumen Mandala yang tingginya 75 meter sendiri terbagi dalam empat lantai.

Masing-masing lantai berisi simbol-simbol perjuangan pembebasan Irian Barat dan perjuangan rakyat Sulsel, termasuk zaman Pahlawan Nasional, Sultan Hasanuddin. Di lantai III monumen tersebut merupakan ruang kerja Soeharto selaku panglima Mandala.

Di situ juga terdapat peta Irian Barat, foto-foto persiapan pemberangkatan ke medan tugas, tanda jabatan, serta pakaian yang dipakai saat operasi Mandala.

”Di dalamnya bagus, ada relief riwayat perjuangan untuk kemerdekaan di Sulsel, Makassar dan daerah lainnya. Ada juga museum, namun kurang populer,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Pembinaan Mental Kodam VII Wirabuana, Letkol Suhatno Hari mengatakan, pembangunan monumen untuk mengenang perjuangan di Irian Barat tak lepas dari dukungan pusat.

”Selain itu ada juga sumbangan dari Tommy Soeharto Rp1 miliar, Pak Jusuf Kalla, Andi Sose dan pengusaha Sulsel lainnya. Jadi itu merupakan produk asli Sulsel,” katanya seraya melanjutkan bahwa untuk relief dan ornamen museum di bawah kendali Kolonel Sarnata dari Siliwangi.

selanjutnya...

Jame AQ

About Me

My photo
jere si???? ya.................... kaya kae lah................. hehehehehe